Siapapun nama laki-laki itu, aku yakin dia adalah sosok sempurna yang bisa mengisi hari-harimu indah kembali. Setelah dulu berwarna kusam karena kesalahan yang kubuat. Kamu pasti mensyukuri kehadirannya. Tetapi apakah memang dia yang kamu inginkan? Kamu dulu pernah bilang, apa yang kita inginkan, kadang bukanlah yang terbaik untuk kita. Apa yang kita inginkan, belum tentu jawaban atas apa yang kita butuhkan. Ya. Semoga saja dia adalah laki-laki yang tidak hanya kamu inginkan, tetapi yang kamu butuhkan.
Dia pasti memiliki sisi sempurna yang aku tidak miliki. Mungkin segala sisi yang kau benci dari diriku, tidak kamu temui lagi di dirinya. Dengan demikian, mungkin akan membuat hidupmu lebih mudah, dibandingkan dengan duniaku dulu yang seringkali tidak bisa kamu mengerti.
Siapapun laki-laki itu, tentu adalah sosok yang terpilih dari sekian banyak yang coba menawarkan hatinya untukmu. Aku tahu, karena kamu bukanlah lagi seorang anak belasan tahun yang dengan suka ria memilih seseorang untuk menjadi pendamping hanya berdasarkan kriteria-kriteria kasat mata yang baru sesaat semata. Darimana aku tahu? Kamu sendiri yang menceritakannya. Dulu.
Cerita-cerita sedih yang melibatkan banyak laki-laki yang silih berganti datang tapi kemudian justru menyakitimu dengan alasannya masing-masing. Ketika satu laki-laki datang dan mencoba memberikan penawar rasa sakit, tetapi pada akhirnya justru kembali membuat luka lain yang lebih sakit lagi. Lebih sakit, karena kamu juga kembali berhadapan pada rasa menyalahkan diri sendiri, mengapa kamu tidak pernah belajar dari kesalahan sebelumnya.
“It’s like, it’s always the same script that I get, but with the different cast..”
katamu saat itu.