Archive for February, 2012

February 6, 2012

He’ll Never Be Me

Siapapun nama laki-laki itu, aku yakin dia adalah sosok sempurna yang bisa mengisi hari-harimu indah kembali. Setelah dulu berwarna kusam karena kesalahan yang kubuat. Kamu pasti mensyukuri kehadirannya. Tetapi apakah memang dia yang kamu inginkan? Kamu dulu pernah bilang, apa yang kita inginkan, kadang bukanlah yang terbaik untuk kita. Apa yang kita inginkan, belum tentu jawaban atas apa yang kita butuhkan. Ya. Semoga saja dia adalah laki-laki yang tidak hanya kamu inginkan, tetapi yang kamu butuhkan.

Dia pasti memiliki sisi sempurna yang aku tidak miliki. Mungkin segala sisi yang kau benci dari diriku, tidak kamu temui lagi di dirinya. Dengan demikian, mungkin akan membuat hidupmu lebih mudah, dibandingkan dengan duniaku dulu yang seringkali tidak bisa kamu mengerti.

Siapapun laki-laki itu, tentu adalah sosok yang terpilih dari sekian banyak yang coba menawarkan hatinya untukmu.  Aku tahu, karena kamu bukanlah lagi seorang anak belasan tahun yang dengan suka ria memilih seseorang untuk menjadi pendamping hanya berdasarkan kriteria-kriteria kasat mata yang baru sesaat semata. Darimana aku tahu? Kamu sendiri yang menceritakannya. Dulu.

Cerita-cerita sedih yang melibatkan banyak laki-laki yang silih berganti datang tapi kemudian justru menyakitimu dengan alasannya masing-masing. Ketika satu laki-laki datang dan mencoba memberikan penawar rasa sakit, tetapi pada akhirnya justru kembali membuat luka lain yang lebih sakit lagi. Lebih sakit, karena kamu juga kembali berhadapan pada rasa menyalahkan diri sendiri, mengapa kamu tidak pernah belajar dari kesalahan sebelumnya.

“It’s like, it’s always the same script that I get, but with the different cast..”

katamu saat itu.

February 1, 2012

While You Were Sleeping

Malam ini aku terbangun.  Jarum pendek di jam dinding kamar menunjuk ke arah angka 2. Sungguh bukanlah sebuah hal yang menyenangkan, terjaga disaat seluruh penghuni dunia terlelap. Atau berusaha untuk itu. Tetapi yang kurasakan hanya ada aku dan sepi disini.  Dan separuh sosok bulan yang semakin tinggi, yang aku yakin sesaat lagi akan sepenuhnya menghilang untuk berganti peran dengan kawanan penghias langit lainnya.

Aku teringat dirimu. Semoga kamu sedang tertidur lelap disana.

Kunyalakan lampu meja di sisi tempat tidurku. Kuatur nafasku perlahan. Pandanganku menerawang ke langit-langit kamar. Ya, semua masih terekam jelas di benak pikiranku. Saat-saat kamu tertidur disampingku, adalah saat-saat dimana aku merasakan ketenangan disekitarku. Kamu tentu tidak pernah tahu, bagaimana aku selalu menikmati saat-saa itu walau hanya sebentar. Lewat pandangan-pandangan singkat yang sempat kucuri ke arahmu setiap kamu terlelap di sebelahku ketika aku melajukan mobilku.Kamu tentu tak pernah tahu bukan,  kalau aku memanfaatkan waktu istirahatmu?

Seperti malam itu. Ketika kita pulang seusai menikmati makan malam. Kamu mengaku sangat lelah karena seharian didera oleh banyak pekerjaan dan persoalan. Tetapi kamu masih tetap menerima ajakan makan malam dariku. Sehingga ketika kamu menguap untuk kedua kalinya di dalam mobil, aku hanya memintamu untuk menidurkan sandaran kursi mobil, agar kamu bisa lebih nyaman jika kau memang ingin memejamkan mata.

“Bener ya. Langsung dianter pulang lho. Jangan diputer-puterin..”

Begitu pesanmu.

Aku hanya tersenyum.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.