Hari demi hari, aku makin merasa bahwa manusia itu mahluk yang tidak tahu diri. Yang dilakukannya hanya meminta diberikan ini dan itu. Jumlahnya bisa bertambah dengan cepat, tidak pernah sekalipun berkurang. Bagaimanapun buruknya komunikasi kita dengan Tuhan, kita selalu merasa tetap berhak untuk mendapatkan apa yang kita minta itu.
Begitu juga aku. Aku tidak pernah bosan meminta. Tanpa aku sadari, karena terlalu sibuknya meminta, aku terlupa untuk mempersiapkan diriku sendiri. Apakah aku siap ketika kemudian Tuhan memberikan jawaban dari segala permintaanku itu sekaligus? Dengan tanganku yang hanya dua ini, sanggupkah aku menerima dan memegangnya hingga takkan terlepas kemudian?
Ternyata tidak.
Sebenarnya tidak banyak yang aku minta pada Tuhan. Karena aku khawatir, semakin banyak yang aku minta, Tuhan akan mengira aku sudah memaksanya, bukan meminta tolong padanya. Sehingga aku hanya ingin diberikan satu hal : kebahagiaan. Cukup. Tetapi ada satu hal yang aku lupa, bahwa kebahagiaan bukanlah sebuah hal yang remeh. Kebahagiaan adalah sebuah tanggungjawab. Memang seberat itu. Pernahkah kau menyadarinya?
Dan kamu, kamu serupa dengan kebahagiaan.
Kamu datang seketika, menjadi jawaban dari doa-doaku itu. Aku pun menyadari itu, karena seberapa cepat atau lambat datangnya, itu semua adalah karena ada jejak tangan Tuhan disana. Hingga kemudian aku seperti tersentak hebat, yang membuatku seperti gamang berpijak. Benarkah ini kebahagiaan yang aku cari? Yang aku minta? Kenapa semudah itu aku mendapatkannya? Tetapi yang menjadi tanya terbesarku adalah, kenapa tiba-tiba aku merasa tidak pantas untuk merasakan kebahagiaan ini?
Percayalah, aku sudah lama bermimpi tentangmu. Untuk sekedar bisa menemukan sosokmu dalam nyata. Terlalu indah dan terlalu tinggi mimpi itu dulu kurasa, sehingga ketika kau benar-benar dikirimkan oleh-Nya, aku sering merasa sepertinya Tuhan justru sedang mengujiku, apakah aku benar-benar siap mendapatkan apa yang aku minta.
Apakah aku siap memberikan diriku untukmu?
Apakah aku siap membagi dirku denganmu?
Sepenuhnya?
Percayalah. Aku meragu bukan karena cintamu. Aku meragu karena diriku sendiri. Oleh alasan-alasan yang kubuat sendiri. Karena ketakutan-ketakutanku sendiri. Yang bodohnya, tidak kubagikan padamu untuk kamu dengarkan, untuk kamu bantu hilangkan. Padahal seharusnya aku tahu, kamu juga yang pasti bisa menenangkan..
Ini tentu bukan jawaban dari semua keingintahuanmu kenapa aku akhirnya memilih untuk pergi. Karena percaylah, semakin hari pun aku ingin sekali menganulir jawaban yang kubuat ini, dan menggantinya dengan jawaban lain yang lebih masuk di akal, dan tentu saja, di hatiku. Yang terpenting, di hatimu.
Sekarang aku tahu, bagaimana kita meminta kebahagiaan itu jauh berbeda dengan bagaimana kita menerimanya…
Semoga kamu tahu. Bagaimanapun caramu kini kamu melihatku, kamu tetaplah kebahagiaan yang yang tetap akan aku minta dalam setiap doa.Entah kapan lagi Tuhan akan memberikannya padaku..