Man Enough To Cry

Ayahku dulu selalu berkata, laki-laki itu tidak boleh cengeng. Tidak boleh menangis. Karena laki-laki dilahirkan untuk menjadi pilar kekuatan bagi perempuan. Bidang dada yang dimiliki, bukan untuk berguncang karena tangisan, tetapi untuk menjadi penyandar yang menguatkan dan menenangkan. Begitu ayahku selalu berpesan.

Tidak demikian dengan ibuku. Jika kau ingin menangis, menangislah. Karena kau manusia, dikaruniai perasaan. Berbagai macam perasaan bisa kita rasakan. Itulah kebanggaan kita sebagai manusia. Menangis adalah ungkapan jujur yang tidak dimiliki mahluk ciptaaan Tuhan lainnya. Kelak kau akan bisa merasakan, bahwa menangis tidak selalu menunjukkan kau cengeng atau lemah. Kau akan tahu dan merasakan, bahkan ketika kau sedang begitu menahan amarah yang meluap pun, kamu bisa menangis. Karena saat itu kau tahu, meluapkan dengan cara yang merusak itu bukanlah jawaban dari segala persoalan, tetapi justru akan membuatmu tidak bernilai sebagai laki-laki.

Dan jangan lupakan pula, kelak ketika kau sedang merasakan bahagia yang membuncah pun, kau pun bisa menitikkan air mata.

“Kamu pikir, papah kamu nggak nangis ketika pertama kali menggendong kamu waktu masih bayi?” 

Begitu ibuku bercerita sambil tersenyum, mencoba makin meyakinkanku bahwa menangis adalah sebuah hal yang sangat manusia.

Aku tidak memihak kepada siapapun untuk hal ini. Bukan berarti ayahku adalah sosok manusia yang tidak berperasaan. Aku hanya tahu, mereka adalah orang-orang bijaksana yang selalu berusaha menuntunku untuk menjadi laki-laki yang baik. Aku tahu, ayah dan ibuku ingin mengatakan bahwa bagaimanapun laki-laki harus lebih tegar dari perempuan tanpa harus kehilangan atau tanpa harus terlihat berlebihan mengumbar perasaannya.

Bohong kalau aku tidak menangis saat itu. Sesaat setelah aku meminta diri darimu. Dari hubungan cinta kita. 

Sesaat setelah kututup pintu kamar dan kujatuhkan badanku ke kasur, airmata itu tiba-tiba saja ikut jatuh tanpa bisa aku cegah, mengalir di kedua pipiku.  Entahlah. Ada kesedihan yang luar biasa di dalam dadaku. Kesedihan yang… ah, entahlah. Aku sendiri bingung menjelaskannya. Sedih, tetapi juga sekaligus marah.

Aku marah pada diriku karena aku ternyata menjadi laki-laki kebanyakan yang kamu kenal. Laki-laki yang akhirnya membuatmu menutup diri dan membuat kesimpulan, bahwa kehadiran kami di dunia ini hanyalah serupa hibrida yang diciptakan untuk mencarut-marut hati perempuan saja. Laki-laki yang muncul dengan sosok yang terlihat sempurna, demi bisa memenangkan hatimu, lalu dengan segala macam daya upaya meremukkannya disaat aku menginginkannya. Laki-laki yang dengan perkasa membuat janji, seolah-olah hanya aku dan kamu saja yang menghuni setiap jengkal dunia, tetapi kemudian memilih untuk pergi begitu muncul rasa bosan, seolah-oleh perempuan hanyalah permen karet yang bisa dibuang begitu hilang rasa manisnya.

Ya. Malam itu aku seperti tertampar sendiri.

I am THAT guy. 

Akulah laki-laki itu. Laki-laki yang selama ini selalu kau takutkan. Laki-laki yang juga selama ini tidak kukira, akan menjadi salah satu diantaranya.

Aku pun menangis karena malu, tiba-tiba  teringat janjiku padamu saat dulu kita berusaha menegaskan keberadaan kita satu sama lain.

“Aku sudah memilih kamu.  Dan aku akan bertanggung-jawab penuh untuk itu..” 

Kamu memelukku saat itu.  Kamu percaya penuh padaku.  Akupun memelukmu erat. Kau ingat waktu itu? Ada tangisan tidak ketara di diriku saat itu. Tangisan bahagia karena akhirnya aku bisa mendekapmu, merasakan hangat cintamu.

Saat itu, tangisanku jauh lebih berharga. Karena aku menangis denganmu. Dan aku tidak malu untuk itu.

 

One Trackback to “Man Enough To Cry”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.