Archive for January 24th, 2012

January 24, 2012

Man Enough To Cry

Ayahku dulu selalu berkata, laki-laki itu tidak boleh cengeng. Tidak boleh menangis. Karena laki-laki dilahirkan untuk menjadi pilar kekuatan bagi perempuan. Bidang dada yang dimiliki, bukan untuk berguncang karena tangisan, tetapi untuk menjadi penyandar yang menguatkan dan menenangkan. Begitu ayahku selalu berpesan.

Tidak demikian dengan ibuku. Jika kau ingin menangis, menangislah. Karena kau manusia, dikaruniai perasaan. Berbagai macam perasaan bisa kita rasakan. Itulah kebanggaan kita sebagai manusia. Menangis adalah ungkapan jujur yang tidak dimiliki mahluk ciptaaan Tuhan lainnya. Kelak kau akan bisa merasakan, bahwa menangis tidak selalu menunjukkan kau cengeng atau lemah. Kau akan tahu dan merasakan, bahkan ketika kau sedang begitu menahan amarah yang meluap pun, kamu bisa menangis. Karena saat itu kau tahu, meluapkan dengan cara yang merusak itu bukanlah jawaban dari segala persoalan, tetapi justru akan membuatmu tidak bernilai sebagai laki-laki.

Dan jangan lupakan pula, kelak ketika kau sedang merasakan bahagia yang membuncah pun, kau pun bisa menitikkan air mata.

“Kamu pikir, papah kamu nggak nangis ketika pertama kali menggendong kamu waktu masih bayi?” 

Begitu ibuku bercerita sambil tersenyum, mencoba makin meyakinkanku bahwa menangis adalah sebuah hal yang sangat manusia.

Aku tidak memihak kepada siapapun untuk hal ini. Bukan berarti ayahku adalah sosok manusia yang tidak berperasaan. Aku hanya tahu, mereka adalah orang-orang bijaksana yang selalu berusaha menuntunku untuk menjadi laki-laki yang baik. Aku tahu, ayah dan ibuku ingin mengatakan bahwa bagaimanapun laki-laki harus lebih tegar dari perempuan tanpa harus kehilangan atau tanpa harus terlihat berlebihan mengumbar perasaannya.

Bohong kalau aku tidak menangis saat itu. Sesaat setelah aku meminta diri darimu. Dari hubungan cinta kita. 

January 24, 2012

Unhappy Happiness

Hari demi hari, aku makin merasa bahwa manusia itu mahluk yang tidak tahu diri. Yang dilakukannya hanya meminta diberikan ini dan itu. Jumlahnya bisa bertambah dengan cepat, tidak pernah sekalipun berkurang.  Bagaimanapun buruknya komunikasi kita dengan Tuhan, kita selalu merasa tetap berhak untuk mendapatkan apa yang kita minta itu.

Begitu juga aku. Aku tidak pernah bosan meminta. Tanpa aku sadari,  karena terlalu sibuknya meminta, aku terlupa untuk mempersiapkan diriku sendiri. Apakah aku siap ketika kemudian Tuhan memberikan jawaban dari segala permintaanku itu sekaligus? Dengan tanganku yang hanya dua ini, sanggupkah aku menerima dan memegangnya hingga takkan terlepas kemudian?

Ternyata tidak.

Sebenarnya tidak banyak yang aku minta pada Tuhan. Karena aku khawatir, semakin banyak yang aku minta, Tuhan akan mengira aku sudah memaksanya, bukan meminta tolong padanya. Sehingga aku hanya ingin diberikan satu hal : kebahagiaan.  Cukup. Tetapi ada satu hal yang aku lupa, bahwa kebahagiaan bukanlah sebuah hal yang remeh. Kebahagiaan adalah sebuah tanggungjawab. Memang seberat itu. Pernahkah kau menyadarinya?

Dan kamu, kamu serupa dengan kebahagiaan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.