Ayahku dulu selalu berkata, laki-laki itu tidak boleh cengeng. Tidak boleh menangis. Karena laki-laki dilahirkan untuk menjadi pilar kekuatan bagi perempuan. Bidang dada yang dimiliki, bukan untuk berguncang karena tangisan, tetapi untuk menjadi penyandar yang menguatkan dan menenangkan. Begitu ayahku selalu berpesan.
Tidak demikian dengan ibuku. Jika kau ingin menangis, menangislah. Karena kau manusia, dikaruniai perasaan. Berbagai macam perasaan bisa kita rasakan. Itulah kebanggaan kita sebagai manusia. Menangis adalah ungkapan jujur yang tidak dimiliki mahluk ciptaaan Tuhan lainnya. Kelak kau akan bisa merasakan, bahwa menangis tidak selalu menunjukkan kau cengeng atau lemah. Kau akan tahu dan merasakan, bahkan ketika kau sedang begitu menahan amarah yang meluap pun, kamu bisa menangis. Karena saat itu kau tahu, meluapkan dengan cara yang merusak itu bukanlah jawaban dari segala persoalan, tetapi justru akan membuatmu tidak bernilai sebagai laki-laki.
Dan jangan lupakan pula, kelak ketika kau sedang merasakan bahagia yang membuncah pun, kau pun bisa menitikkan air mata.
“Kamu pikir, papah kamu nggak nangis ketika pertama kali menggendong kamu waktu masih bayi?”
Begitu ibuku bercerita sambil tersenyum, mencoba makin meyakinkanku bahwa menangis adalah sebuah hal yang sangat manusia.
Aku tidak memihak kepada siapapun untuk hal ini. Bukan berarti ayahku adalah sosok manusia yang tidak berperasaan. Aku hanya tahu, mereka adalah orang-orang bijaksana yang selalu berusaha menuntunku untuk menjadi laki-laki yang baik. Aku tahu, ayah dan ibuku ingin mengatakan bahwa bagaimanapun laki-laki harus lebih tegar dari perempuan tanpa harus kehilangan atau tanpa harus terlihat berlebihan mengumbar perasaannya.
Bohong kalau aku tidak menangis saat itu. Sesaat setelah aku meminta diri darimu. Dari hubungan cinta kita.