Kepada Pagi, Siang dan Malam

Tahukah kamu,

Menyambut pagi terasa lebih mudah dengan ada-mu. Terasa sekali ringannya membuka mata dan membuat segaris senyum di bibirku. Karena apa? Karena ada kamu yang sudah duduk manis didalam pikirku, bahkan sejak aku akan memejamkan mata tadi malam. Kamu hebat sekali. Mampu menjagaku tertidur hingga pagi ini datang.

Lagu-lagu cinta yang kuputar di pagi hari, terasa lebih menyemangati. Segelas besar air putih yang kutuang  dan kuteguk perlahan, terasa lebih menyegarkan tenggorokan. Setangkup roti gandum yang kadang terasa hambar, terasa lebih renyah dan gurih didalam mulutku.  Kamu tahu? Itu semua karena ada kamu didalam pikirku.

Memang pagi kemudian akan terasa singkat, terlalu singkat malahan, untuk sekedar mengingat lagi canda tawa kita semalam. Walau hanya melalui sambungan telepon tanpa bisa beradu pandang. Tetapi aku seperti ada disampingmu, didalam mobil yang sedang kau pacu, menemanimu meniti jalan-jalan sepi di malam hari ketika kau pulang dari tempat kerja.

Semua terasa indah saja. Karena memang iya.

Semudah hatiku menyambut datangnya siang. Tidak perlu kugambarkan lagi bagaimana nikmatnya makan siangku jadinya, setelah membaca kalimat “Selamat makan siang ya, sayang..” di layar BlackBerry ku. Kamu tahu, wujud nyatamu memang tak nampak menemaniku menghabiskan butir demi butir nasi yang ada di piring, tetapi sejuknya perhatianmu seperti mampu menghapuskan butir demi butir keringat yang sering membasahi keningku akibat menikmati efek pedas dari sambal kegemaranku.

Demikian hebatnya kamu menjadi siangku.

Sempat aku meragu, apakah kau akan tetap ada menemaniku hingga malam tiba. Aku khawatir semua itu akan hilang, ikut meluruh seperti sang terang yang merelakan sinarnya untuk dibagikan kepada kegelapan malam.

Tetapi tidak. Kamu dengan indah menunjukkan kesetianmu untuk menjadi peneman hariku. Berjanji setia dari awal hingga hari usai. Tidak pagi, tidak juga hanya siang, tetapi hingga tiba sang malam. Kamu tahu, tidak ada lagi yang mengerikan ketika memasuki malam. Dinginnya justru terasa hangat, dan heningnya justru terasa nikmat. Memikirkanmu disaat ku sendiri, di ruang kerjaku. Diantara tumpukan kertas-kertas dan pekerjaan yang menuntut ingin lebih dulu dikerjakan, tetapi semua itu tidak ada yang bisa menandingimu. Kamu yang selalu ada di urutan pertama.

Untuk kupikirkan. Tanpa harus kupaksakan.

Hingga saat ku merebahkan tubuh penatku di tempat tidur lagi. Dan keadaan kembali lagi seperti yang sebelumn-sebelumnya lagi. Meneleponmu. Mendengar suaramu. Mendengar tawa khasmu. Mendengarkan hening dari setiap jeda pembicaraan kita di telepon. Menjadi sebuah kebahagiaan yang selalu tak sabar untuk segera kujemput sebelum aku benar-benar tertidur dan menjemput mimpiku yang sebenarnya,  kamu.

Karena kamu ada di pikirku. Itu berarti, kamu ada di diriku.

Kamu adalah aku.

Aku itu kamu.

Tidak ada sedetikpun di hariku, tak memikirkanmu. Tidak pagi, siang atau malam. Karena semua adalah tentang kamu. You’re my morning, my noon and my night.

Ya, aku tahu aku pernah mengatakan padamu.  Aku bilang, aku mencintaimu. Aku bilang, tak ada siapapun yang bisa membuatku segila ini. Akupun bilang, hanya kamu yang tahu bagaimana membuatmu merasa bahwa kamu adalah poros dari segala putaran waktuku.

Kini kamu tahu, bagaimana berantakannya hidupku tanpamu. Semuanya terasa hampa, biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Tidak ada bedanya. Kalaupun ada, aku tidak lagi merasakan bahagia. Itu bedanya.

Tetapi aku tidak ingin berbeda. Aku ingin kita tetap sama. Kembali sama.

Ingin sekali.

One Trackback to “Kepada Pagi, Siang dan Malam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.