Archive for January, 2012

January 31, 2012

Sederhana

Kamu bukanlah mahluk yang sempurna. Aku juga.

Apakah kita sebuah padanan yang tepat untuk bersama untuk menjadi sempurna?
Tidak. Tidak ada yang sempurna di dunia. Tidak sekarang, tidak juga besok atau lusa atau kapanpun. Selelah apapun kita mencoba, kita tidak akan pernah bisa sampai kesana. Terlalu jauh. Yang bisa kita lakukan hanyalah memahami, bahwa kita memiliki banyak kekurangan yang hanya bisa tertutupi ketika kita bersama.

Memang, akan ada masa dimana kita merasa sudah sempurna satu sama  lain. Dunia kita hanya indah saja, tanpa cela. Tetapi percayalah, itu bukanlah jawaban dari segalanya. Bukan pula jalan yang kita tuju, melainkan sebuah awal dari keinginan-keinginan baru lainnya yang akan memaksa kita kembali bertanya, harus sesempurna apa aku dimatamu dan juga ingin seperti apa kau ubah hidupmu agar terlihat sempurna di hatiku? Sempurna itu tidak pernah cukup. Tidak akan pernah.

Ada saat dimana kamu membuat hidupku merasa penuh. Penuh yang terlalu penuh, sehingga justru segala perasaan itu mengalir tumpah dan hanya menyisakan sedikit saja. Saat dimana cinta muncul dengan terlalu meluap,  membuatku dengan terburu-buru menyusun sendiri gambaran angan tentang bagaimana seharusnya cinta menurutku. Bukan menurut kita. Sehingga ketika angan itu sulit diwujudkan, hanya ada kekecewaan yang tertinggal. Salahku juga.

January 27, 2012

How Are You?

“Apa kabarmu hari ini?”

Pertanyaan yang jika diajukan hari-hari terakhir ini, hanya akan kujawab dengan senyuman sekilas saja. Berharap dengan senyuman yang tersungging di bibirku, bagaimanapun kecut terlihatnya, akan memberikan jawaban yang orang-orang itu ingin dapatkan dariku. Biarlah mereka yang memutuskan, apakah aku baik-baik saja atau tidak.

Terkadang aku bertanya. Mengapa mereka ingin sekali tahu bagaimana keadaanku? Apakah mereka memang peduli,  ataukah mereka hanya ingin sekedar berbuat baik? Mungkin mereka memang ingin tahu bagaimana keadaanku saat ini, setelah sebelumnya tahu bahwa tidak ada lagi kamu di hidupku. Sanggupkah aku bertahan dan tetap menjadi aku yang mereka kenal? Dan mungkin mereka juga ingin menawarkan bantuan, jika memang aku membutuhkannya.

Aku hargai itu.

Tetapi kadang mereka lupa. Sebuah rasa sakit, tetaplah rasa sakit. Yang mau bagaimana pun besarnya coba dibagikan, akan tetap membuat kita merasa, itu tetaplah sebuah rasa sakit. Seorang teman pernah menyadarkan aku tentang hal itu. Kadang, ketika kau sedang terbaring lemah karena sebuah  penyakit dan orang-orang datang menjenguk sambil kemudian menanyakan sakit apakah yang kita derita dan bagaimana itu bisa terjadi, pertama-tama itu terasa sebuah wujud kepedulian. Itu manis.

Hingga akhirnya pertanyaan yang sama selalu diajukan oleh setiap tamu berikutnya, semua justru akan terasa menyakitkan.

January 26, 2012

If I Never Get To Heaven

Seberapa besar arti cintamu buatku?

Mana mungkin sanggup aku menggambarkannya?  Seperti sulitnya membuat sebuah tulisan dengan riak air di sebuah genangan. Hampir tidak mungkin. Seperti susahnya melihat udara yang setiap hari kuhela. Tidak nampak, tetapi benar-benar kurasakan. Hadirnya bisa kusyukuri setiap saat.

Ya. Mungkin seperti itulah arti kamu buatku. Seperti oksigen yang mampu membantuku kembali bernafas panjang setelah sebelumnya hampir terkapar karena deraan rasa kecewa dan dikecewakan. Juga seperti udara yang dengan ringan mampu membawa seluruh tubuhku pergi. Jauh ke tempat dimana hanya ada kamu dan aku saja, dan juga udara itu sendiri. Tempat dimana kita saling berbagi hela. Berbagi kehidupan. Tanpa ku sadari, kaulah hidupku. Yang menyambung nafasku untuk beberapa saat lalu itu.

Sehingga berlebihankah jika aku menyebut dirimu adalah surga?

January 24, 2012

Man Enough To Cry

Ayahku dulu selalu berkata, laki-laki itu tidak boleh cengeng. Tidak boleh menangis. Karena laki-laki dilahirkan untuk menjadi pilar kekuatan bagi perempuan. Bidang dada yang dimiliki, bukan untuk berguncang karena tangisan, tetapi untuk menjadi penyandar yang menguatkan dan menenangkan. Begitu ayahku selalu berpesan.

Tidak demikian dengan ibuku. Jika kau ingin menangis, menangislah. Karena kau manusia, dikaruniai perasaan. Berbagai macam perasaan bisa kita rasakan. Itulah kebanggaan kita sebagai manusia. Menangis adalah ungkapan jujur yang tidak dimiliki mahluk ciptaaan Tuhan lainnya. Kelak kau akan bisa merasakan, bahwa menangis tidak selalu menunjukkan kau cengeng atau lemah. Kau akan tahu dan merasakan, bahkan ketika kau sedang begitu menahan amarah yang meluap pun, kamu bisa menangis. Karena saat itu kau tahu, meluapkan dengan cara yang merusak itu bukanlah jawaban dari segala persoalan, tetapi justru akan membuatmu tidak bernilai sebagai laki-laki.

Dan jangan lupakan pula, kelak ketika kau sedang merasakan bahagia yang membuncah pun, kau pun bisa menitikkan air mata.

“Kamu pikir, papah kamu nggak nangis ketika pertama kali menggendong kamu waktu masih bayi?” 

Begitu ibuku bercerita sambil tersenyum, mencoba makin meyakinkanku bahwa menangis adalah sebuah hal yang sangat manusia.

Aku tidak memihak kepada siapapun untuk hal ini. Bukan berarti ayahku adalah sosok manusia yang tidak berperasaan. Aku hanya tahu, mereka adalah orang-orang bijaksana yang selalu berusaha menuntunku untuk menjadi laki-laki yang baik. Aku tahu, ayah dan ibuku ingin mengatakan bahwa bagaimanapun laki-laki harus lebih tegar dari perempuan tanpa harus kehilangan atau tanpa harus terlihat berlebihan mengumbar perasaannya.

Bohong kalau aku tidak menangis saat itu. Sesaat setelah aku meminta diri darimu. Dari hubungan cinta kita. 

January 24, 2012

Unhappy Happiness

Hari demi hari, aku makin merasa bahwa manusia itu mahluk yang tidak tahu diri. Yang dilakukannya hanya meminta diberikan ini dan itu. Jumlahnya bisa bertambah dengan cepat, tidak pernah sekalipun berkurang.  Bagaimanapun buruknya komunikasi kita dengan Tuhan, kita selalu merasa tetap berhak untuk mendapatkan apa yang kita minta itu.

Begitu juga aku. Aku tidak pernah bosan meminta. Tanpa aku sadari,  karena terlalu sibuknya meminta, aku terlupa untuk mempersiapkan diriku sendiri. Apakah aku siap ketika kemudian Tuhan memberikan jawaban dari segala permintaanku itu sekaligus? Dengan tanganku yang hanya dua ini, sanggupkah aku menerima dan memegangnya hingga takkan terlepas kemudian?

Ternyata tidak.

Sebenarnya tidak banyak yang aku minta pada Tuhan. Karena aku khawatir, semakin banyak yang aku minta, Tuhan akan mengira aku sudah memaksanya, bukan meminta tolong padanya. Sehingga aku hanya ingin diberikan satu hal : kebahagiaan.  Cukup. Tetapi ada satu hal yang aku lupa, bahwa kebahagiaan bukanlah sebuah hal yang remeh. Kebahagiaan adalah sebuah tanggungjawab. Memang seberat itu. Pernahkah kau menyadarinya?

Dan kamu, kamu serupa dengan kebahagiaan.

January 20, 2012

Kepada Pagi, Siang dan Malam

Tahukah kamu,

Menyambut pagi terasa lebih mudah dengan ada-mu. Terasa sekali ringannya membuka mata dan membuat segaris senyum di bibirku. Karena apa? Karena ada kamu yang sudah duduk manis didalam pikirku, bahkan sejak aku akan memejamkan mata tadi malam. Kamu hebat sekali. Mampu menjagaku tertidur hingga pagi ini datang.

Lagu-lagu cinta yang kuputar di pagi hari, terasa lebih menyemangati. Segelas besar air putih yang kutuang  dan kuteguk perlahan, terasa lebih menyegarkan tenggorokan. Setangkup roti gandum yang kadang terasa hambar, terasa lebih renyah dan gurih didalam mulutku.  Kamu tahu? Itu semua karena ada kamu didalam pikirku.

Memang pagi kemudian akan terasa singkat, terlalu singkat malahan, untuk sekedar mengingat lagi canda tawa kita semalam. Walau hanya melalui sambungan telepon tanpa bisa beradu pandang. Tetapi aku seperti ada disampingmu, didalam mobil yang sedang kau pacu, menemanimu meniti jalan-jalan sepi di malam hari ketika kau pulang dari tempat kerja.

Semua terasa indah saja. Karena memang iya.

Semudah hatiku menyambut datangnya siang. Tidak perlu kugambarkan lagi bagaimana nikmatnya makan siangku jadinya, setelah membaca kalimat “Selamat makan siang ya, sayang..” di layar BlackBerry ku. Kamu tahu, wujud nyatamu memang tak nampak menemaniku menghabiskan butir demi butir nasi yang ada di piring, tetapi sejuknya perhatianmu seperti mampu menghapuskan butir demi butir keringat yang sering membasahi keningku akibat menikmati efek pedas dari sambal kegemaranku.

Demikian hebatnya kamu menjadi siangku.

January 19, 2012

Menggila

Aku memang tidak pernah tahu bagaimana dengan cepatnya kamu datang. Karena semuanya terjadi begitu cepat. Yang ku tahu hanyalah secepat itu juga kamu membuatku percaya lagi bahwa Tuhan tidak ingin aku larut terlalu dalam dalam sepi dan kesedihan. Bahwa Tuhan mungkin ingin memberikanku hadiah atas kebaikan yang telah kulakukan di masa lalu. Kamu.

Sungguh, aku tidak pernah tahu mengapa bisa secepat itu kamu hadir di hidupku. Sepertinya tidak bisa kumengerti. Yang aku tahu hanyalah, bagaimanapun kerasnya kamu mengingat apa-kapan-dimana-darimana itu terjadi, sepertinya itu semua tidak akan mampu menjelaskan bagaimana Tuhan sebenarnya sudah membuatkan skenario besar yang sudah disusun-Nya untuk umatnya. Kita.

Sayangnya,  itu semua masih disimpan-Nya rapat-rapat. Tidak ada satupun dari umat yang bisa mencuri lihat, bagaimanapun caranya. Tuhan pasti tidak akan senang jika rencananya itu bocor. Ia adalah serang planner yang handal. Ia adalah seorang pemberi kejutan yang hebat. Tetapi Ia juga memiliki sense of humor yang aneh. Ibarat seorang komedian, kadang kita justru takut untuk memberi tepukan tangan bagi setiap ‘joke-joke’ yang dikeluarkannya.

Tapi ia tetaplah Dia. Yang lebih suka jika kita duduk tenang dan percaya saja. Percaya dengan iman kita.

Tetapi itulah yang kadang membuat kita gila…

Menanti dan menebak-nebak semua rencananya. Karena kita hanya ingin bahagia, menolak duka. Menginginkan pelangi, tanpa harus melalui derasnya hujan. Menginginkan sinar matahari, tanpa harus melalui dinginnya udara menjelang pagi. Kita hanya menginginkan apa yang kita inginkan.

Tidak sampai seratus duapuluh hari kita berada dalam rasa  yang sama. Rasa yang membuat kita nyaman saling duduk berhadapan, memandang satu sama lain. Bergantian. Kadang bersamaan. Tanpa kata, namun hati kita seperti sedang saling menjaga debarnya. Agar getar bahagianya tidak sampai meluap hingga membuat kita berbuat sesuatu yang bodoh. Padahal kita tahu, apapun kebodohan yang dilakukan atas nama rasa yang kita rasakan saat itu, semua akan terasa masuk di akal saja…

Ternyata aku salah. Tidak semua.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.